![]() |
|
Yasinia (berbaju Orange)sedang memimpin
Musyawarah Desa
|
Kecil-kecil si
cabe rawit, itulah gambaran sesosok kader pemberdayaan desa Orahili Tumori
Kecamatan Gunungsitoli Barat yang bernama lengkap Yasinia Zebua, si mungil yang
cantik ini adalah anak kedua dari 3 bersaudara, lahir di Orahili Tumori 31
Oktober 1989, 24 tahun yang lalu, tumbuh dan besar dari keluarga petani dan
hidup sangat pas-pasan tidak membuat yasi (panggilan akrabnya) menjadi pribadi
yang lemah dan menutup diri. Dia menunjukkan bahwa walaupun hidup dengan segala
keterbatasan dari segi fasilitas dan materi, ia mampu berbuat dan berprestasi
bagi desanya.
Lulusan SMK BNKP
Gunungsitoli tahun 2009 ini, terpilih menjadi Kader Pemberdayaan Masyarakat
Desa (KPMD) desa Orahili Tumori pada tahun 2010. Bersama-sama rekannya sesama
KPMD dari desa- desa lain, mereka mendapatkan pelatihan pratugas sebagai kader
pemberdayaan yang bertugas sebagai mediator dalam penyampaian hal-hal yang
berkaitan dengan program PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Gunungsitoli
Barat. Ketertarikan terhadap dunia pemberdayaan sudah mulai terlihat dari sejak
pembekalan kader, yasinia selalu antusias dan tidak pernah melewatkan
arahan-arahan yang diberikan oleh fasilitator kecamatan. Dalam setiap pertemuan
kader yang diadakan, yasinia tidak pernah absen untuk menghadirinya.
Semangatnya untuk
membangun desanya tidak pernah surut, walaupun dusunnya masih terisolir
dikarenakan tidak ada jembatan penghubung, sehingga jika hendak keluar dari
dusun, yasinia harus melewati sungai yang cukup deras alirannya, dan jika hujan
tiba maka yasi serta penduduk di dusunnya tidak dapat keluar dusun karena
derasnya aliran sungai yang harus mereka lalui. Belum lagi perjuangannya ke
kantor UPK, dikarenakan ia tidak memiliki sepeda motor dan karena belum adanya
angkutan desa, maka jika tidak ada ojek dari desanya, maka yasinia harus
berjalan kaki sejauh 2,5 Km, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan di tingkat kecamatan atau untuk berkordinasi dengan pihak
kecamatan.
“Saya harus
membantu desa agar mendapat pembangunan walaupun bukan di dusun saya dibangun”,
itu lah ungkapnya ketika ditanya kenapa harus bersusah payah memfasilitasi
desa, padahal ia tidak mendapatkan gaji dari PNPM, dan pada saat penentuan
usulan pembangunan, masyarakat desa kurang memperhatikan dusunnya untuk
dibangun sarana prasarana pendukung seperti akses jembatan yang sangat ia
harapkan. Namun semangat untuk terus memfasilitasi agar desanya dapat selalu
ikut serta dalam program PNPM Mandiri Perdesaan terus ia lakukan. Kesabarannya
dan ketulusannya dalam memfasilitasi tidak pernah surut sedikitpun, sampai
akhirnya harapannya dan warga dusunnya terwujud, pada tahun 2013 masyarakat
desa sepakat menyusulkan sarana penghubung ke dusun I untuk diusulkan sebagai
prioritas pembangunan ke PNPM Mandiri Perdesaan, dimana yasinia tinggal bersama
puluhan keluarga lainnya.
Penampilan yang
sederhana, cara berkomunikasi yang mudah dimengerti membuat warga desa antusias
dalam setiap pertemuan, bahkan yasi selalu menjadi tumpuan di desa ketika
terdapat hal-hal yang tidak dimengerti oleh warga desa dan aparat desa mengenai
PNPM Mandiri Perdesaan. Bahkan bpk Elibudi Zebua selaku kepala desa orahili
tumori dalam setiap kesempatan kegiatan desa baik musyawarah atau rapat-rapat
lainnya selalu memuji keuletan yasi dalam memfasilitasi desa.
Dengan semangatnya
agar desanya terlepas dari keterisoliran, yasinia gigih untuk mengajak
masyarakat desanya agar beramai-ramai mengikuti kegiatan musyawarah pembangunan
yang dilaksanakan oleh PNPM Mandiri Perdesaan, dan kegigihannya yasinia berbuah
manis ketika desanya orahili tumori telah 3 kali berturut-turut mendapatkan
dana pembangunan sarana prasarana dari dana BLM PNPM Maandiri Perdesaan dan
pinjaman SPP.
Dalam hal
memfasilitasi tentunya tidak semulus jalan tol, yasinia zebua sebagai kader
pemberdayaan yang bertugas mensosialisasikan aturan-aturan dan mekanisme dalam
PNPM Mandiri Perdesaan sering mendapat cibiran dan pendapatnya sering di
acuhkan oleh warga desa, karena dianggap masih muda dan tidak mengerti masalah
pembangunan, dan masih banyak warga desa bersikap acuh tak acuh terhadap
pembangunan desa bahkan mengganggap pembangunan cukup aparat desa saja yang
membahas dan menentukan. Berlahan tapi pasti, yasi mampu mengubah cara pandang
masyarakat di desanya. Hingga saat ini tingkat partisipatif desa orahili tumori
cukup baik terutama kaum perempuan. Bahkan jiwa pemberdayaannya di uji ketika
terdapat kelompok Simpan Pinjam desanya yang melakukan penunggakan pembayaran,
namun dengan pendekatan-pendekatan serta pemahaman-pemahaman yang ia lakukan
bersama rekan-rekan KPMD desanya dan di dukung oleh fasilitator bersama UPK, ia
mampu melakukan mediasi dan mencarikan solusi bagi pengurus kelompok tersebut.
![]() |
| Penghargaan “Si Kompak Award” KPMD Terbaik Se-Kota Gunungsitoli |
Setelah 4 tahun
berturut-turut menjadi kader pemberdayaan, dedikasinya terhadap program PNPM di
apresiasi oleh pokja RBM Kota Gunungsitoli, yasi ‘si mungil’ dari orahili
tumori dan rekan-rekannya yang tergabung dalam kader pemberdayaan dan kader
teknik mendapatkan “si kompak award” kategori KPMD Terbaik I Se-Kota
Gunungsitoli


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan Saran