Jumat, 13 Desember 2013

Generasi Muda yang Inspiratif Berdedikasi di tengah Keterbatasan




Yasinia (berbaju Orange)sedang memimpin Musyawarah Desa

Kecil-kecil si cabe rawit, itulah gambaran sesosok kader pemberdayaan desa Orahili Tumori Kecamatan Gunungsitoli Barat yang bernama lengkap Yasinia Zebua, si mungil yang cantik ini adalah anak kedua dari 3 bersaudara, lahir di Orahili Tumori 31 Oktober 1989, 24 tahun yang lalu, tumbuh dan besar dari keluarga petani dan hidup sangat pas-pasan tidak membuat yasi (panggilan akrabnya) menjadi pribadi yang lemah dan menutup diri. Dia menunjukkan bahwa walaupun hidup dengan segala keterbatasan dari segi fasilitas dan materi, ia mampu berbuat dan berprestasi bagi desanya.
Lulusan SMK BNKP Gunungsitoli tahun 2009 ini, terpilih menjadi Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) desa Orahili Tumori pada tahun 2010. Bersama-sama rekannya sesama KPMD dari desa- desa lain, mereka mendapatkan pelatihan pratugas sebagai kader pemberdayaan yang bertugas sebagai mediator dalam penyampaian hal-hal yang berkaitan dengan program PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Gunungsitoli Barat. Ketertarikan terhadap dunia pemberdayaan sudah mulai terlihat dari sejak pembekalan kader, yasinia selalu antusias dan tidak pernah melewatkan arahan-arahan yang diberikan oleh fasilitator kecamatan. Dalam setiap pertemuan kader yang diadakan, yasinia tidak pernah absen untuk menghadirinya. 
Semangatnya untuk membangun desanya tidak pernah surut, walaupun dusunnya masih terisolir dikarenakan tidak ada jembatan penghubung, sehingga jika hendak keluar dari dusun, yasinia harus melewati sungai yang cukup deras alirannya, dan jika hujan tiba maka yasi serta penduduk di dusunnya tidak dapat keluar dusun karena derasnya aliran sungai yang harus mereka lalui. Belum lagi perjuangannya ke kantor UPK, dikarenakan ia tidak memiliki sepeda motor dan karena belum adanya angkutan desa, maka jika tidak ada ojek dari desanya, maka yasinia harus berjalan kaki sejauh 2,5 Km, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di tingkat kecamatan atau untuk berkordinasi dengan pihak kecamatan.
“Saya harus membantu desa agar mendapat pembangunan walaupun bukan di dusun saya dibangun”, itu lah ungkapnya ketika ditanya kenapa harus bersusah payah memfasilitasi desa, padahal ia tidak mendapatkan gaji dari PNPM, dan pada saat penentuan usulan pembangunan, masyarakat desa kurang memperhatikan dusunnya untuk dibangun sarana prasarana pendukung seperti akses jembatan yang sangat ia harapkan. Namun semangat untuk terus memfasilitasi agar desanya dapat selalu ikut serta dalam program PNPM Mandiri Perdesaan terus ia lakukan. Kesabarannya dan ketulusannya dalam memfasilitasi tidak pernah surut sedikitpun, sampai akhirnya harapannya dan warga dusunnya terwujud, pada tahun 2013 masyarakat desa sepakat menyusulkan sarana penghubung ke dusun I untuk diusulkan sebagai prioritas pembangunan ke PNPM Mandiri Perdesaan, dimana yasinia tinggal bersama puluhan keluarga lainnya.
Penampilan yang sederhana, cara berkomunikasi yang mudah dimengerti membuat warga desa antusias dalam setiap pertemuan, bahkan yasi selalu menjadi tumpuan di desa ketika terdapat hal-hal yang tidak dimengerti oleh warga desa dan aparat desa mengenai PNPM Mandiri Perdesaan. Bahkan bpk Elibudi Zebua selaku kepala desa orahili tumori dalam setiap kesempatan kegiatan desa baik musyawarah atau rapat-rapat lainnya selalu memuji keuletan yasi dalam memfasilitasi desa.
Dengan semangatnya agar desanya terlepas dari keterisoliran, yasinia gigih untuk mengajak masyarakat desanya agar beramai-ramai mengikuti kegiatan musyawarah pembangunan yang dilaksanakan oleh PNPM Mandiri Perdesaan, dan kegigihannya yasinia berbuah manis ketika desanya orahili tumori telah 3 kali berturut-turut mendapatkan dana pembangunan sarana prasarana dari dana BLM PNPM Maandiri Perdesaan dan pinjaman SPP.
Dalam hal memfasilitasi tentunya tidak semulus jalan tol, yasinia zebua sebagai kader pemberdayaan yang bertugas mensosialisasikan aturan-aturan dan mekanisme dalam PNPM Mandiri Perdesaan sering mendapat cibiran dan pendapatnya sering di acuhkan oleh warga desa, karena dianggap masih muda dan tidak mengerti masalah pembangunan, dan masih banyak warga desa bersikap acuh tak acuh terhadap pembangunan desa bahkan mengganggap pembangunan cukup aparat desa saja yang membahas dan menentukan. Berlahan tapi pasti, yasi mampu mengubah cara pandang masyarakat di desanya. Hingga saat ini tingkat partisipatif desa orahili tumori cukup baik terutama kaum perempuan. Bahkan jiwa pemberdayaannya di uji ketika terdapat kelompok Simpan Pinjam desanya yang melakukan penunggakan pembayaran, namun dengan pendekatan-pendekatan serta pemahaman-pemahaman yang ia lakukan bersama rekan-rekan KPMD desanya dan di dukung oleh fasilitator bersama UPK, ia mampu melakukan mediasi dan mencarikan solusi bagi pengurus kelompok tersebut.
Penghargaan “Si Kompak Award” KPMD Terbaik Se-Kota Gunungsitoli
Setelah 4 tahun berturut-turut menjadi kader pemberdayaan, dedikasinya terhadap program PNPM di apresiasi oleh pokja RBM Kota Gunungsitoli, yasi ‘si mungil’ dari orahili tumori dan rekan-rekannya yang tergabung dalam kader pemberdayaan dan kader teknik mendapatkan “si kompak award” kategori KPMD Terbaik I Se-Kota Gunungsitoli

Yasinia Zebua hanya 1 dari ratusan kader pemberdayaan di Nusantara yang mendedikasikan dirinya bagi kemajuan desa. Sesosok Generasi muda yang penuh inspiratif ini harusnya dapat menjadi motivator bagi kawula muda, bahwa pembangunan bukan hanya milik segelintir orang atau urusan orang tua, tapi juga milik kita para generasi muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran